Ada satu pengalaman yang mungkin langsung membangkitkan nostalgia pemain PlayStation generasi pertama.
Sudah main berjam-jam.
Cerita makin seru.
Boss berhasil dikalahkan.
Cutscene selesai.
Layar kemudian berhenti dan muncul instruksi kurang lebih seperti:
Please Insert Disc 2.
Buka tutup console.
Ambil Disc 1.
Masukkan Disc 2.
Tutup lagi.
Lanjut main.
Untuk pemain sekarang yang terbiasa download game puluhan sampai ratusan gigabyte ke SSD, konsep satu game terdiri dari beberapa CD mungkin terasa aneh.
Kenapa tidak dimasukkan saja semuanya ke satu disc?
Jawabannya sebenarnya sangat sederhana:
ruangnya tidak cukup.
Tetapi cerita tentang kenapa game PS1 ada banyak disc jauh lebih menarik daripada sekadar kapasitas penyimpanan.
Di balik Disc 1, Disc 2, Disc 3, sampai Disc 4 terdapat cerita tentang bagaimana developer zaman itu harus menyesuaikan ambisi game dengan teknologi penyimpanan yang tersedia.
PS1 Menggunakan CD-ROM
Salah satu perubahan besar pada generasi PlayStation pertama adalah penggunaan optical disc sebagai media game.
Berbeda dengan cartridge yang digunakan sejumlah console sebelumnya, game PlayStation umumnya didistribusikan menggunakan CD-ROM.
Bentuknya mirip CD musik.
Tetapi isinya tentu bukan hanya lagu.
Di dalam disc game terdapat berbagai data yang diperlukan game.
Misalnya:
program,
3D model,
texture,
background,
music,
sound effect,
voice,
animation,
dan video.
Semuanya membutuhkan ruang.
Satu CD Punya Kapasitas Terbatas
CD-ROM pada era tersebut hanya menyediakan kapasitas di kisaran ratusan megabyte, umumnya sekitar 650–700 MB, tergantung format dan disc yang digunakan.
Sekarang angka itu terasa sangat kecil.
Satu video smartphone saja bisa lebih besar.
Tetapi pada 1990-an, kapasitas tersebut sangat berguna untuk game.
CD Memberikan Ruang Besar untuk Eranya
Developer dapat memasukkan jauh lebih banyak:
audio,
video,
dan asset
dibanding beberapa media game sebelumnya.
Masalahnya, ambisi developer juga ikut meningkat.
Begitu tersedia ruang lebih besar, game pun mulai menggunakan lebih banyak data.
Developer Tidak Berpikir “Wah, 650 MB Banyak Banget, Sisanya Kosongin Aja”
Ruang tersebut dimanfaatkan.
Cutscene lebih panjang.
Musik lebih banyak.
Voice acting mulai digunakan.
Environment semakin beragam.
Game menjadi lebih besar.
Sampai akhirnya satu CD tidak lagi cukup.
Solusinya Sangat Praktis: Tambah CD
Kalau satu disc penuh?
Gunakan dua.
Masih belum cukup?
Tiga.
Bahkan ada game yang menggunakan empat disc.
Inilah dasar sederhana dari game PS1 multi disc.
Tapi Apa yang Membuat Ukuran Game Begitu Besar?
Menariknya, bukan selalu gameplay yang paling banyak memakan ruang.
Beberapa jenis asset jauh lebih berat.
Salah satunya:
video.
FMV Bisa Memakan Banyak Storage
Era PS1 terkenal dengan penggunaan full-motion video atau FMV.
Developer menggunakan video pre-rendered untuk menampilkan adegan cinematic yang jauh lebih detail daripada grafik real-time console.
Hasilnya pada masa itu bisa terasa luar biasa.
Karakter terlihat lebih detail.
Explosion lebih dramatis.
Camera movement lebih cinematic.
Environment tampak kompleks.
Tetapi Video Membutuhkan Ruang
Semakin:
panjang,
tinggi kualitasnya,
dan banyak jumlahnya,
semakin besar storage yang dibutuhkan.
Jadi game yang penuh cinematic sequence bisa membutuhkan beberapa disc bukan karena map-nya empat kali lebih besar, tetapi karena banyak data multimedia.
Audio Juga Bisa Besar
Musik dan voice acting membutuhkan storage.
Kalau sebuah game mempunyai:
banyak dialogue,
banyak character voice,
banyak soundtrack,
maka kebutuhan ruang meningkat.
Compression Membantu, tetapi Ada Batasnya
Developer tentu menggunakan berbagai teknik untuk mengecilkan ukuran data.
Namun compression selalu memiliki trade-off.
Terlalu agresif bisa mengurangi kualitas.
Jadi Developer Harus Memilih
Kualitas lebih tinggi?
Lebih banyak content?
Atau ukuran lebih kecil?
Keterbatasan storage menjadi bagian dari proses desain.
Kenapa Tidak Semua Game PS1 Punya Banyak Disc?
Karena ukuran dan jenis content setiap game berbeda.
Game sederhana mungkin cukup satu disc.
Game dengan:
banyak area,
banyak cinematic,
banyak audio,
dan campaign panjang
bisa membutuhkan lebih banyak.
Genre Juga Berpengaruh
Game RPG besar misalnya bisa memiliki:
banyak lokasi,
karakter,
dialogue,
musik,
dan cinematic.
Tetapi jangan menganggap semua RPG pasti multi-disc.
Kebutuhan storage tergantung bagaimana game dibuat.
Kenapa Disc Dibagi Berdasarkan Bagian Cerita?
Ini bagian menarik.
Kalau game punya empat disc, bukan berarti:
Disc 1 = 25% semua file,
Disc 2 = 25%,
dan seterusnya secara acak.
Developer bisa mengatur data berdasarkan progression.
Misalnya Disc 1 Berisi Asset untuk Bagian Awal
Area awal.
Cutscene awal.
Dialogue awal.
Kemudian ketika cerita mencapai titik tertentu, game meminta:
Disc 2.
Disc berikutnya membawa asset untuk bagian perjalanan berikutnya.
Ini Sangat Masuk Akal
Kalau player sudah menyelesaikan bagian tertentu dan tidak akan kembali ke sebagian besar content sebelumnya, disc baru dapat membawa data yang dibutuhkan untuk bagian berikutnya.
Tapi Kok Kadang Bisa Balik ke Area Lama?
Nah, di sinilah desain data menjadi lebih pintar.
Asset tertentu dapat diduplikasi di beberapa disc.
Misalnya ada karakter, menu, music, atau area yang masih diperlukan.
File tersebut bisa ada pada Disc 1 sekaligus Disc 2.
Bukankah Duplikasi Memboroskan Storage?
Iya.
Tetapi terkadang itu diperlukan supaya game tetap bisa berjalan tanpa meminta pemain:
“Masukkan Disc 1.”
Lima menit kemudian:
“Masukkan Disc 2.”
Kemudian:
“Balik Disc 1 lagi.”
Itu akan sangat mengganggu.
Jadi Multi-Disc Tidak Berarti Setiap Disc Berisi Data yang Sepenuhnya Unik
Sebagian asset bisa muncul berulang.
Tujuannya membuat perjalanan pemain lebih nyaman.
Lalu Bagaimana Console Tahu Kita Sudah Sampai Disc 2?
Di sinilah progress game berperan.
Informasi perjalanan pemain tidak hanya berada di disc.
Sebagian state/progress dapat disimpan melalui sistem save.
Pada PS1, kita mengenal perangkat kecil yang sangat penting:
memory card.
Memory Card dan Disc Punya Fungsi Berbeda
Ini nyambung langsung dengan artikel kita sebelumnya.
CD berisi game data.
Memory card menyimpan save data.
Jadi Disc 2 tidak perlu menyimpan seluruh perjalanan kita di Disc 1.
Progress berada di save.
Analoginya Sederhana
Disc = bukunya.
Memory card = bookmark + catatan progress.
Ganti buku bagian kedua tidak berarti kita lupa sudah membaca bagian pertama.
Apakah Harus Save Sebelum Ganti Disc?
Tergantung bagaimana game tersebut dirancang.
Beberapa game menangani pergantian disc secara langsung di titik tertentu.
Ada juga kondisi di mana save menjadi penting untuk melanjutkan perjalanan.
Karena desain setiap game berbeda, pengalaman multi-disc tidak selalu identik.
Apakah PS1 Dimatikan Saat Ganti Disc?
Biasanya ketika game secara resmi meminta disc berikutnya, proses pergantian dilakukan sesuai instruksi game tanpa mematikan console.
Game sedang menunggu media berikutnya.
Masukkan disc yang diminta.
Kemudian proses berlanjut.
Kedengarannya Ribet, tetapi Dulu Terasa Normal
Karena pemain memang terbiasa dengan media fisik.
Game punya disc.
Film punya VHS/VCD/DVD.
Musik punya cassette/CD.
Mengganti media bukan sesuatu yang terasa aneh.
Bahkan Ganti Disc Bisa Menjadi Momen Besar
Bayangkan sudah main puluhan jam.
Tiba-tiba muncul:
Insert Disc 2.
Secara psikologis terasa seperti:
“Wah, gue sudah masuk bagian berikutnya.”
Disc Menjadi Semacam Chapter Fisik
Bukan hanya perubahan dalam game.
Kita benar-benar melakukan sesuatu di dunia nyata.
Buka console.
Ambil disc.
Masukkan berikutnya.
Ada Sense of Progress yang Bisa Dipegang
Ini pengalaman yang hampir hilang pada game digital modern.
Kenapa Tidak Menggunakan DVD Saja?
Karena ketika PlayStation pertama dirancang dan dirilis, CD-ROM merupakan media yang sesuai dengan teknologi serta ekosistem perangkat tersebut.
DVD kemudian menjadi lebih relevan pada generasi berikutnya.
PS2 Membawa Perubahan Besar
PlayStation 2 mendukung media dengan kapasitas yang jauh lebih besar melalui DVD untuk banyak gamenya.
Sekarang developer bisa menyimpan beberapa gigabyte dalam satu disc.
Akibatnya Kebutuhan Multi-Disc Berkurang
Game yang pada era CD mungkin membutuhkan beberapa disc bisa lebih mudah dimuat pada media berkapasitas lebih besar.
Tetapi bukan berarti masalah storage hilang selamanya.
Game Selalu Mengejar Kapasitas
Media bertambah besar.
Asset juga bertambah besar.
Resolusi texture naik.
Audio makin bagus.
Video makin berkualitas.
World makin luas.
Storage Lebih Besar Tidak Pernah Benar-Benar “Cukup Selamanya”
Developer selalu menemukan cara menggunakannya.
PS1: Ratusan Megabyte Terasa Besar
Kemudian:
gigabyte.
Puluhan gigabyte.
Ratusan gigabyte.
Sekarang game modern tertentu bisa membutuhkan storage yang dulu terdengar absurd.
Prinsipnya Sama
Developer mempunyai budget storage.
Asset harus masuk.
Yang berubah hanya skalanya.
Kenapa Game Modern Tidak Pakai 20 Disc?
Karena distribusi game berubah.
Sekarang sebagian besar data bisa:
di-install ke storage,
di-download,
diperbarui,
atau didistribusikan melalui media berkapasitas lebih besar.
Disc fisik modern juga tidak bekerja persis seperti CD game PS1.
Disc Sekarang Bisa Lebih Mirip Media Instalasi
Pada banyak sistem modern, game dijalankan dengan data yang telah di-install ke internal storage.
Ini berbeda dengan pengalaman era PS1 ketika optical disc merupakan bagian langsung dari cara console mengakses game.
Kenapa PS1 Bisa Membaca Game Langsung dari CD?
Optical drive membaca data yang diperlukan dari disc.
Karena itu suara drive bekerja menjadi bagian familiar dari pengalaman console lama.
Kadang Kita Bisa Mendengar Disc Berputar
Loading.
Drive bergerak.
Kemudian game lanjut.
Bagi pemain retro, suara itu sendiri bisa memicu nostalgia.
Loading Screen Juga Berkaitan dengan Keterbatasan Hardware
Console perlu mengambil data.
Menyiapkan asset.
Memindahkannya ke memory yang tersedia.
Storage dan RAM Itu Berbeda
Ini penting.
CD menyimpan data game.
RAM menyediakan ruang kerja sementara ketika game berjalan.
Punya disc besar tidak berarti semua data bisa dimasukkan ke memory sekaligus.
Developer Harus Mengatur Apa yang Dimuat
Area tertentu masuk.
Asset tertentu keluar.
Kemudian area berikutnya dimuat.
Inilah Salah Satu Alasan Loading Screen Ada
Hardware perlu waktu menyiapkan data berikutnya.
Tetapi Loading Juga Bisa Disembunyikan
Developer menggunakan trik desain.
Lorong panjang.
Pintu.
Elevator.
Animation tertentu.
Cutscene.
Semua bisa memberikan waktu untuk loading tanpa menampilkan tulisan “Loading”.
Teknik Ini Masih Ada di Game Modern
Walaupun SSD jauh lebih cepat.
Karena data game modern juga jauh lebih kompleks.
Kembali ke PS1: Kenapa Tidak Compress Semua Sampai Muat Satu Disc?
Karena compression bukan magic.
Misalnya kita punya data 2 GB.
Tidak selalu bisa ditekan menjadi 600 MB tanpa konsekuensi.
Jenis Data Berbeda Punya Potensi Compression Berbeda
Audio.
Video.
Texture.
Program code.
Semua memiliki karakteristik sendiri.
Semakin Tinggi Compression, Kualitas Bisa Menurun
Video bisa terlihat lebih kasar.
Audio kehilangan detail.
Image punya artifact.
Developer Menentukan Trade-Off
Daripada menghancurkan kualitas supaya satu disc, lebih masuk akal menggunakan disc tambahan.
Biaya Produksi Disc Juga Dipertimbangkan
Menambah disc berarti biaya fisik bertambah.
Packaging juga perlu menampungnya.
Tetapi CD Relatif Praktis untuk Mass Production
Inilah salah satu alasan optical media sangat menarik pada eranya dibanding media tertentu sebelumnya.
Multi-Disc Bahkan Bisa Menambah Kesan Premium
Buka case.
Ada tiga atau empat disc.
Sebagai anak kecil, rasanya seperti:
“Game ini pasti gede banget.”
Walaupun jumlah disc tidak selalu identik dengan panjang gameplay.
Ini Penting: Banyak Disc Tidak Berarti Game Lebih Panjang
Game 4 disc belum tentu empat kali lebih panjang dari game 1 disc.
Kenapa?
Karena storage bisa dihabiskan oleh:
FMV,
audio,
duplicate assets,
dan kualitas multimedia.
Game dengan Gameplay Panjang Bisa Tetap Satu Disc
Kalau asset-nya efisien.
Sebaliknya game lebih pendek bisa menggunakan lebih banyak storage karena banyak video berkualitas tinggi.
Jadi Jangan Mengukur Durasi dari Jumlah Disc
Disc menunjukkan kebutuhan data.
Bukan jumlah jam bermain.
Apakah Setiap Disc Bisa Dimainkan Langsung?
Biasanya tidak sesederhana memasukkan Disc 3 ketika baru mulai dan langsung bermain dari sana.
Game dirancang dengan progression tertentu.
Disc Berikutnya Bukan Game Terpisah
Ia bagian dari keseluruhan software.
Tetapi Kenapa Kadang Menu Awal Tetap Muncul?
Karena beberapa data dasar bisa diduplikasi.
Sekali lagi:
asset duplication.
Developer Perlu Memastikan Disc Bisa Menangani Fungsi yang Dibutuhkan
Load save.
Menu.
System data.
Common assets.
Save Data Menjadi Kunci
Kalau save menunjukkan kita sudah berada pada bagian Disc 3, game bisa melanjutkan sesuai progress tersebut.
Bagaimana Kalau Disc 2 Hilang?
Ini mimpi buruk era physical gaming.
Punya:
Disc 1.
Disc 3.
Disc 4.
Tapi Disc 2 hilang.
Secara praktis perjalanan bisa terputus ketika game membutuhkan disc yang tidak tersedia.
Satu Goresan Bisa Menjadi Drama
Ini juga bagian pengalaman retro.
Disc rusak tepat sebelum cutscene penting?
Panik.
Orang Punya Berbagai “Ritual”
Bersihkan disc.
Lap.
Coba lagi.
Buka-tutup console.
Berharap.
Jangan Ikuti Semua Mitos Perbaikan Disc
Beberapa trik internet atau kebiasaan lama justru berpotensi memperburuk disc.
Untuk koleksi retro, penanganan dan pembersihan yang tepat lebih baik daripada eksperimen abrasif.
Simpan Disc dengan Benar
Pegang bagian tepi.
Masukkan ke case setelah digunakan.
Hindari permukaan kasar.
Jauhkan dari panas berlebihan.
Optical Disc Tidak Abadi
Media fisik bisa mengalami kerusakan.
Karena itu preservation game retro menjadi topik penting.
Kenapa Collector Mencari Game Lengkap dengan Semua Disc?
Karena satu set multi-disc yang tidak lengkap memang kehilangan bagian penting produknya.
Complete Copy Bisa Termasuk
Disc.
Case.
Manual.
Insert.
Tergantung rilisan.
Kondisi Disc Juga Penting
Bukan hanya ada atau tidak.
Apakah masih dapat dibaca dengan baik?
Multi-Disc Menjadi Bagian dari Identitas Game Retro
Hari ini cover art dan menu mungkin yang paling diingat.
Tetapi pada masa itu, disc sendiri punya visual.
Disc 1 bisa punya artwork karakter tertentu.
Disc 2 karakter lain.
Menyusun Disc dalam Case Menjadi Bagian dari Presentation
Game bukan hanya software.
Ia juga benda fisik.
Ini Salah Satu Hal yang Hilang dari Digital Distribution
Download memang praktis.
Tetapi tidak ada:
disc art,
manual,
case,
atau ritual mengganti media.
Sebaliknya Digital Punya Keuntungan Besar
Tidak ada Disc 2 hilang.
Tidak ada scratch pada CD.
Tidak perlu berdiri dari sofa untuk mengganti media.
Setiap Era Punya Trade-Off
Retro bukan otomatis lebih baik.
Modern juga bukan otomatis kehilangan semua charm.
Pengalamannya berbeda.
Apakah Multi-Disc Hanya Ada di PS1?
Tidak.
Konsep software atau game yang menggunakan beberapa disc/media sudah ada di berbagai platform dan generasi.
PC juga pernah memiliki game/software dengan banyak floppy disk atau CD.
Console lain juga mengalami penggunaan multi-disc.
Bahkan Sebelum CD, Ada Multi-Floppy
Bayangkan game meminta:
Insert Disk 5.
Jadi PS1 bukan pencipta konsep mengganti media.
Ia hanya membuat pengalaman tersebut sangat familiar bagi generasi pemain tertentu.
Kenapa PS1 Multi-Disc Sangat Ikonik?
Karena PS1 hadir ketika game cinematic mulai berkembang pesat.
Developer bereksperimen dengan:
3D,
FMV,
voice,
dan storytelling yang lebih besar.
CD memberikan ruang.
Tetapi ambisi segera mengejar kapasitas itu.
Multi-Disc Menjadi Bukti Transisi Industri
Dari game yang sangat terbatas storage menuju pengalaman multimedia yang lebih besar.
Game Tidak Lagi Hanya “Main”
Presentation semakin penting.
Cutscene.
Music.
Voice acting.
Story.
Storage Menjadi Bagian dari Creative Decision
Developer harus bertanya:
Apa yang layak menggunakan ruang?
Berapa banyak cinematic?
Apakah audio perlu dikompres?
Asset mana yang bisa dipakai ulang?
Keterbatasan Bisa Mendorong Kreativitas
Ini tema yang sering muncul dalam retro technology.
Hardware terbatas.
Storage terbatas.
Memory terbatas.
Tetapi developer tetap berusaha membuat pengalaman besar.
Banyak Trik Game Lama Lahir dari Keterbatasan
Fog.
Pre-rendered background.
Repeated texture.
Loading transition.
Asset reuse.
Semua bisa memiliki alasan teknis sekaligus artistik.
Pre-Rendered Background Bisa Menghemat Beban 3D
Daripada seluruh ruangan dibuat sebagai geometry real-time kompleks, background bisa berupa image yang sudah dirender sebelumnya.
Karakter bergerak di atasnya.
Hasilnya Bisa Terlihat Sangat Detail untuk Eranya
Tetapi camera biasanya lebih terbatas.
Sekali Lagi, Limitation Menjadi Style
Hari ini orang bahkan sengaja membuat game dengan visual ala PS1.
Bukan karena hardware memaksa.
Tetapi karena aesthetic tersebut sudah menjadi identitas.
Multi-Disc Juga Menjadi Aesthetic Memory
Tulisan:
DISC 1
DISC 2
pada case langsung terasa retro.
Ada Sensasi “Perjalanan Panjang”
Walaupun secara teknis cuma perpindahan media.
Kenapa Sekarang Kita Jarang Melihat “Insert Disc 2” di Tengah Game?
Karena storage architecture berubah.
Media lebih besar.
Game di-install.
Digital download dominan.
Internal storage jauh lebih besar.
Tetapi Konsep Pembagian Data Tidak Hilang
Sekarang bentuknya bisa menjadi:
base game,
additional download,
language pack,
HD texture pack,
DLC,
atau update.
Secara User Experience Berbeda
Dulu:
ganti disc.
Sekarang:
“Additional 37 GB required.”
Mungkin teknologi berubah.
Tetapi masalah storage masih mengikuti kita.
Bahkan Ada Kemiripan Lucu
Dulu:
“Disc 2 mana?”
Sekarang:
“Storage gue sisa berapa?”
Masalah beda era.
Paniknya sama.
Dari Memory Card ke SSD
Dulu kita mengatur blok save.
Sekarang mengatur ratusan gigabyte game.
Retro Tech Menunjukkan Seberapa Cepat Standar Berubah
650 MB dulu cukup untuk sebuah game besar.
Sekarang ukuran tersebut bisa terasa seperti satu update kecil.
Tapi Ukuran File Tidak Sama dengan Kualitas Game
Game besar belum tentu bagus.
Game kecil belum tentu sederhana.
Storage hanyalah salah satu resource.
Design Tetap Menentukan Pengalaman
Ini berlaku dulu maupun sekarang.
Jadi Kenapa Game PS1 Bisa Sampai 4 Disc?
Sekarang jawabannya lebih jelas.
Karena total data yang dibutuhkan game melebihi kapasitas satu CD.
Developer kemudian membagi content ke beberapa disc berdasarkan struktur game.
Asset tertentu mungkin hanya ada pada satu disc.
Asset umum bisa diduplikasi.
Save data membantu mempertahankan progress.
Dan pemain mengganti media ketika game membutuhkan bagian data berikutnya.
Sederhana Secara Konsep
Tetapi implementasinya membutuhkan perencanaan.
Checklist Cepat
Kalau mau mengingat:
CD PS1: storage game.
Memory Card: progress pemain.
Multi-disc: solusi ketika data terlalu besar untuk satu CD.
Disc change: perpindahan ke kumpulan data berikutnya.
Selesai.
FAQ
Kenapa game PS1 ada banyak disc?
Karena total data game dapat melebihi kapasitas satu CD-ROM. Developer membagi data ke beberapa disc agar seluruh asset, video, audio, dan bagian game dapat didistribusikan.
Berapa kapasitas CD game PS1?
CD-ROM pada era tersebut umumnya berada di kisaran sekitar 650–700 MB, meskipun detail penggunaan kapasitas dapat bergantung pada format disc dan cara data disusun.
Apa fungsi Disc 1 dan Disc 2 pada PS1?
Masing-masing disc membawa bagian data yang dibutuhkan game. Pembagian bisa mengikuti progression cerita atau struktur content, sementara beberapa asset umum dapat muncul pada lebih dari satu disc.
Apakah game 4 disc berarti empat kali lebih panjang?
Tidak. Jumlah disc menunjukkan kebutuhan storage, bukan langsung durasi permainan. Video, audio, dan duplicate assets juga dapat menggunakan banyak ruang.
Apa hubungan memory card dengan game multi-disc?
Memory card digunakan untuk menyimpan progress pemain, sedangkan CD menyimpan data game. Keduanya memiliki fungsi berbeda.
Kenapa PS2 lebih jarang menggunakan banyak disc?
Banyak game PS2 menggunakan DVD yang memiliki kapasitas jauh lebih besar daripada CD, sehingga lebih banyak data dapat dimuat dalam satu disc.
Apakah remaster game PS1 masih membutuhkan banyak disc?
Tidak harus. Platform modern memiliki storage dan metode distribusi berbeda sehingga data dari beberapa CD lama dapat disimpan sebagai satu instalasi.
Apakah game multi-disc hanya ada di PlayStation?
Tidak. Software dan game multi-disc atau multi-media pernah digunakan di berbagai platform, termasuk komputer dan console lain.
Kesimpulan
Sekarang tulisan “Please Insert Disc 2” terasa seperti peninggalan teknologi lama.
Tetapi pada zamannya, itu bukan gangguan aneh.
Itu adalah solusi.
Satu CD hanya mempunyai ruang terbatas.
Sementara developer ingin memasukkan lebih banyak:
cerita,
area,
musik,
voice,
dan cinematic.
Ketika satu disc tidak cukup, mereka tidak selalu memangkas ambisinya.
Mereka menambahkan disc berikutnya.
Karena itulah game PS1 multi disc bisa mempunyai Disc 1, Disc 2, Disc 3, bahkan Disc 4.
Yang lebih menarik, keterbatasan tersebut akhirnya menciptakan pengalaman yang justru diingat pemain sampai sekarang.
Bukan hanya boss.
Bukan hanya karakter.
Bukan hanya soundtrack.
Tetapi momen ketika layar berhenti dan game berkata:
ganti disc.
Kita berdiri.
Membuka PlayStation.
Mengambil CD berikutnya.
Lalu sadar:
“Wah, ceritanya sudah sejauh ini.”
Teknologi modern membuat proses itu tidak lagi diperlukan.
Tapi untuk satu generasi pemain, mengganti disc bukan sekadar urusan storage.
Itu bagian dari perjalanan gamenya sendiri.






