Kalau tumbuh bersama PlayStation generasi pertama, ada satu pengalaman gaming yang sekarang terasa sangat asing.
Sedang asyik bermain.
Cerita makin seru.
Sudah berjam-jam mengikuti perjalanan karakter.
Lalu game berhenti dan layar meminta:
masukkan Disc 2.
Kita membuka tutup PlayStation.
Mengambil CD berikutnya dari case.
Memasukkannya.
Menutup kembali.
Kemudian cerita berlanjut.
Beberapa game bahkan tidak berhenti di dua disc.
Ada yang menggunakan tiga.
Bahkan ada game terkenal seperti Final Fantasy VIII dan Final Fantasy IX yang dirilis dalam empat disc pada versi PlayStation aslinya. Final Fantasy VII menggunakan tiga disc.
Buat gamer sekarang, konsep seperti ini mungkin terdengar aneh.
Satu game biasanya tinggal:
download,
install,
kemudian dimainkan.
Kalau ukuran game 80 GB, 100 GB, atau bahkan lebih besar, kita tidak diminta mengganti media penyimpanan setiap beberapa chapter.
Jadi kenapa dulu game PS1 ada yang sampai 2, 3, bahkan 4 disc?
Jawaban utamanya sebenarnya sederhana:
kapasitas satu CD tidak cukup untuk menampung seluruh data gamenya.
Tetapi dari jawaban sederhana itu, ada cerita teknologi yang cukup menarik.
PS1 Menggunakan CD-ROM
Salah satu perubahan besar yang dibawa PlayStation generasi pertama adalah penggunaan CD-ROM sebagai media game.
Sebelumnya, banyak konsol populer menggunakan cartridge.
CD menawarkan kapasitas penyimpanan yang jauh lebih besar dibanding banyak cartridge game pada era tersebut dan biaya produksi media optiknya juga memiliki karakteristik berbeda.
Ini membuka banyak kemungkinan baru bagi developer.
Mereka bisa memasukkan lebih banyak:
musik,
dialog,
gambar,
video,
dan asset game.
Tetapi CD tetap punya batas.
Satu CD PS1 Tidak Punya Kapasitas Tak Terbatas
CD-ROM pada masa itu secara umum hanya mampu menyimpan data dalam kisaran ratusan megabyte, dengan kapasitas yang bergantung pada format dan implementasinya.
Untuk banyak game, itu sudah sangat besar pada zamannya.
Masalah muncul ketika developer mulai membuat game yang jauh lebih ambisius.
Satu disc tidak lagi cukup.
Solusinya?
Bagi gamenya menjadi beberapa disc.
Anggap Saja Seperti Koper
Kita punya barang terlalu banyak.
Satu koper tidak muat.
Daripada membuang barang penting, kita menggunakan koper kedua.
Game multi-disc pada dasarnya menghadapi masalah serupa.
Disc 1 membawa sebagian data.
Disc 2 membawa bagian lainnya.
Kalau masih belum cukup:
Disc 3.
Disc 4.
Tapi Apa yang Membuat Game PS1 Begitu Besar?
Ini bagian menariknya.
Bukan selalu karena map gamenya sangat luas.
Ada jenis data tertentu yang bisa memakan ruang sangat besar.
Salah satunya adalah video.
Era PS1 Sangat Suka FMV
Kalau pernah memainkan game PS1, mungkin familiar dengan cutscene yang kualitas visualnya jauh berbeda dari gameplay.
Karakter terlihat lebih detail.
Camera movement cinematic.
Lighting lebih dramatis.
Scene terasa seperti film pendek.
Ini sering disebut FMV, atau full-motion video.
Video Membutuhkan Banyak Storage
Dibandingkan data gameplay tertentu, video pre-rendered bisa memakan ruang yang signifikan.
Semakin banyak cinematic yang digunakan, semakin besar kebutuhan storage.
Itulah sebabnya game dengan banyak cutscene bisa membutuhkan lebih banyak disc.
Final Fantasy adalah Contoh yang Sangat Terkenal
Game RPG besar pada era PS1 sering menggunakan banyak cinematic untuk menyampaikan cerita.
Perjalanan panjang.
Banyak lokasi.
Banyak karakter.
Musik.
Cutscene.
Asset visual.
Semua itu membutuhkan ruang.
Ketika satu CD tidak cukup, game dibagi.
Apakah Berarti Setiap Disc Berisi Chapter yang Benar-Benar Berbeda?
Tidak sesederhana itu.
Beberapa data bisa muncul kembali di lebih dari satu disc.
Kenapa?
Karena setiap disc tetap harus mampu menjalankan bagian game yang sedang dimainkan.
Ada Data yang Perlu Diduplikasi
Misalnya engine atau asset tertentu yang masih dibutuhkan pada beberapa bagian permainan.
Developer tidak bisa selalu mengatakan:
“Data itu ada di Disc 1, jadi masukkan Disc 1 sebentar, lalu kembali ke Disc 3.”
Itu akan sangat merepotkan.
Jadi sebagian data tertentu dapat diduplikasi di beberapa disc.
Ini Membuat Konsep Ukuran Game Menjadi Menarik
Misalnya sebuah game menggunakan empat CD.
Tidak berarti seluruh kapasitas empat CD tersebut berisi data unik.
Sebagian bisa merupakan data yang sama yang diperlukan pada beberapa bagian game.
Lalu Apa yang Biasanya Berbeda?
Konten yang hanya diperlukan pada bagian tertentu.
Misalnya cinematic.
Area.
Audio.
Asset cerita.
Atau data lain yang berkaitan dengan bagian permainan tersebut.
Bagaimana PS1 Tahu Kita Sudah Sampai Disc 2?
Game mengetahui progress pemain.
Ketika mencapai titik tertentu, software meminta disc berikutnya.
Biasanya muncul pesan seperti:
Please Insert Disc 2.
Apakah Harus Mematikan PlayStation?
Biasanya tidak.
Justru proses pergantian disc dirancang agar dilakukan ketika game meminta.
Konsol tetap hidup.
Kita membuka lid.
Mengganti disc.
Menutupnya.
Game kemudian memeriksa media baru dan melanjutkan.
Ini Terasa Menegangkan Waktu Kecil
Terutama kalau belum pernah melakukannya.
Ada rasa:
“Ini beneran boleh dibuka saat PlayStation masih nyala?”
Tetapi memang itu bagian dari desain game multi-disc.
Save Data Tidak Disimpan di Disc
Ini juga berhubungan dengan artikel Grandpa’s iPod kita sebelumnya.
Progress PS1 umumnya disimpan menggunakan Memory Card, bukan ditulis kembali ke CD game.
CD-ROM adalah media read-only dalam penggunaan normal konsol.
Jadi ketika pindah dari Disc 1 ke Disc 2, progress pemain tidak “pindah” ke CD berikutnya.
Memory Card yang Menyimpan Progress
Game membaca save data.
Disc menyediakan data game.
Dua fungsi berbeda.
Ini salah satu alasan Memory Card sangat penting pada era PS1.
Apakah Bisa Langsung Masukkan Disc 2 dari Awal?
Tergantung gamenya.
Pada banyak game multi-disc, disc tertentu bisa memiliki executable atau sistem boot sendiri, tetapi apakah kita bisa melanjutkan permainan bergantung pada bagaimana game dirancang dan save data yang tersedia.
Disc 2 Bukan “Game Kedua”
Ini tetap bagian dari satu game.
Bukan sequel.
Disc hanya pembagian media penyimpanan.
Analogi Modernnya Mirip File Besar yang Dibagi
Bayangkan kita punya file sangat besar.
Storage media hanya mampu menampung sebagian.
Maka data dibagi ke beberapa media.
Bedanya, game dirancang supaya perpindahan tersebut terasa menjadi bagian dari perjalanan bermain.
Kenapa Developer Tidak Mengompres Saja?
Mereka tentu menggunakan berbagai teknik optimasi dan compression.
Tetapi compression juga punya batas.
Terutama pada hardware era 1990-an.
Compression Bukan Sihir
File bisa dibuat lebih kecil.
Tetapi tidak berarti data apa pun bisa diperkecil menjadi sepersepuluh ukuran tanpa konsekuensi.
Ada trade-off antara:
kualitas,
ukuran,
kemampuan decoding hardware,
dan performa.
Hardware PS1 Juga Harus Bisa Membacanya
Tidak cukup hanya membuat compression super kompleks.
Konsol harus mampu memproses data tersebut secara praktis.
Video adalah Salah Satu Tantangan Besar
Video membutuhkan keseimbangan antara:
resolution,
frame rate,
compression,
dan kualitas visual.
Itulah sebabnya FMV PS1 sekarang terlihat sangat compressed ketika ditonton pada layar modern.
Tetapi Dulu Terlihat Luar Biasa
Ini perlu dilihat dalam konteks zamannya.
Ketika berpindah dari gameplay polygonal ke cinematic pre-rendered, perbedaannya terasa dramatis.
Bagi banyak pemain, FMV terasa seperti melihat masa depan video game.
Layar CRT Juga Membantu Persepsi Visual
Game PS1 dibuat untuk teknologi display pada zamannya.
Ketika video beresolusi rendah ditampilkan pada televisi CRT, karakter visualnya terasa berbeda dibanding ketika file yang sama diperbesar pada monitor modern beresolusi tinggi.
Nostalgia Kadang Membuat Ingatan Kita Lebih Tajam daripada Gambar Aslinya
Kita mungkin mengingat:
“Wah dulu grafiknya kayak film.”
Kemudian melihat ulang sekarang.
Ternyata kotak-kotak.
Tetapi pada saat itu memang impresif.
Kenapa RPG Sering Multi-Disc?
Genre RPG pada era PS1 punya beberapa karakteristik yang membuat ukuran data mudah membesar.
Cerita panjang.
Banyak lokasi.
Banyak musik.
Banyak karakter.
Banyak cinematic.
Tetapi Durasi Game Bukan Satu-Satunya Faktor
Game 50 jam tidak otomatis lebih besar daripada game 10 jam.
Kalau sebagian besar gameplay menggunakan asset yang sama berulang kali, ukuran datanya bisa tetap relatif efisien.
Storage dan Playtime Tidak Sama
Ini masih berlaku sekarang.
Game 20 GB bisa punya ratusan jam gameplay.
Game 100 GB bisa selesai jauh lebih cepat.
Yang Memakan Storage adalah Data
Texture.
Audio.
Video.
Model.
Animation.
Dan asset lainnya.
Bukan jumlah jam pemain menekan controller.
Audio Juga Bisa Menghabiskan Banyak Ruang
Musik dan voice acting membutuhkan storage.
Terutama kalau kualitas audio meningkat atau jumlah rekaman banyak.
PS1 Berada di Masa Transisi
Developer mulai bereksperimen dengan presentation yang lebih cinematic.
Video.
Voice.
Musik berkualitas lebih tinggi.
Semua ini membutuhkan media yang lebih besar.
CD Membuat Eksperimen Itu Mungkin
Kalau tetap menggunakan storage yang jauh lebih kecil, banyak pengalaman tersebut akan lebih sulit diwujudkan dalam bentuk yang sama.
Tetapi Ketika Satu CD Tidak Cukup…
Tambahkan CD lagi.
Sederhana.
Apakah Multi-Disc Mahal?
Menambahkan disc tentu menambah material dan packaging dibanding satu disc.
Namun optical media memiliki karakteristik produksi yang membuat penggunaan beberapa disc tetap memungkinkan untuk sejumlah rilis besar.
Kita Bisa Melihatnya dari Packaging
Game multi-disc biasanya memiliki case yang dirancang untuk menyimpan beberapa CD.
Membuka case game baru dan melihat:
Disc 1.
Disc 2.
Disc 3.
Disc 4.
memberikan kesan bahwa gamenya sangat besar.
Bahkan Sebelum Dimainkan
Empat disc terasa seperti:
“Ini bakal panjang.”
Multi-Disc Juga Menjadi Bagian dari Marketing Perception
Banyak pemain mengasosiasikan jumlah disc dengan skala game.
Walaupun secara teknis jumlah disc tidak langsung menunjukkan durasi atau kualitas.
Lebih Banyak Disc Bukan Berarti Game Lebih Bagus
Ini penting.
Jumlah disc hanyalah konsekuensi kebutuhan data dan cara game dibangun.
Game Satu Disc Bisa Sangat Besar secara Gameplay
Begitu juga game empat disc tidak otomatis punya empat kali lebih banyak konten.
Ada Data yang Duplicated
Seperti yang kita bahas tadi.
Kenapa Tidak Menggunakan DVD?
Karena PlayStation pertama dirancang menggunakan CD-ROM.
DVD baru menjadi media penting pada generasi konsol berikutnya.
PlayStation 2 Mengubah Situasi
PS2 mendukung media dengan kapasitas lebih besar, termasuk DVD untuk banyak game.
Dengan DVD, developer bisa menyimpan jauh lebih banyak data dalam satu disc dibanding CD.
Akibatnya Multi-Disc Menjadi Lebih Jarang
Tetapi tidak sepenuhnya hilang dari industri.
Game terus membesar.
Ketika kebutuhan data mengejar kapasitas media lagi, masalah serupa muncul dalam bentuk baru.
Xbox 360 Juga Punya Game Multi-Disc
Generasi setelah PS2 pun masih melihat beberapa game yang menggunakan lebih dari satu disc.
Alasannya tetap familiar:
data terlalu besar untuk satu media.
Bahkan Era Modern Pernah Punya Beberapa Disc
Pada beberapa rilis fisik modern, satu disc bisa digunakan untuk data installation sementara disc lain digunakan untuk bermain, tergantung platform dan gamenya.
Jadi Multi-Disc Tidak Benar-Benar Mati
Fungsinya saja berubah.
Dulu: Ganti Disc di Tengah Cerita
Sekarang bisa menjadi:
install disc,
data disc,
play disc.
Kenapa Sekarang Kita Jarang Merasakannya?
Karena distribusi digital mengubah hubungan kita dengan media.
Game sekarang bisa didownload langsung ke internal storage.
Storage Konsol Jauh Lebih Besar
Kita tidak perlu menjaga seluruh game tetap berada pada satu optical disc saat bermain.
Data bisa di-install ke:
SSD,
internal storage,
atau media penyimpanan konsol.
Disc Modern Juga Punya Kapasitas Lebih Besar
Teknologi optical media berkembang jauh melampaui CD.
Tetapi Ukuran Game Juga Ikut Meledak
Texture resolusi tinggi.
Audio berkualitas tinggi.
Cinematic.
Model detail.
Open world.
Banyak bahasa.
Karena Itu Masalah Storage Tidak Hilang
Ia hanya berubah bentuk.
Dulu Masalahnya:
“Masukkan Disc 2.”
Sekarang:
“Storage tidak cukup.”
Nostalgia yang berbeda.
Dulu Kita Mengganti Disc
Sekarang kita menghapus game lain.
Apakah Digital Lebih Praktis?
Dalam banyak aspek, iya.
Tidak perlu mengganti media.
Tidak perlu menyimpan beberapa disc.
Game bisa update secara online.
Tetapi Ada Sesuatu yang Hilang
Physical interaction.
Membuka case.
Melihat artwork.
Mengambil Disc 2.
Menyimpan Disc 1.
Progress Terasa Secara Fisik
Ini unik.
Ketika game berkata:
Insert Disc 2
ada perasaan:
“Wah, gue sudah sejauh ini.”
Pergantian Disc Seperti Milestone
Walaupun sebenarnya cuma pergantian media.
Secara psikologis, rasanya seperti menyelesaikan satu babak besar.
Apalagi Kalau Disc Baru Punya Artwork Berbeda
Kita tahu cerita memasuki fase berikutnya.
Ada Ritual Kecil
Pause.
Buka console.
Ambil disc.
Masukkan berikutnya.
Lanjut.
Sekarang proses itu hampir hilang.
Tetapi Ritual Juga Punya Masalah
Disc bisa hilang.
Bayangkan Punya Disc 1, 2, dan 4
Disc 3 entah ke mana.
Game praktis tidak bisa dilanjutkan melewati bagian tertentu.
Ini Horror Story Gamer Retro
Bukan boss terakhir.
Bukan save corrupt.
Disc 3 hilang.
Disc Juga Bisa Tergores
Optical media sangat bergantung pada kondisi fisiknya.
Kalau disc berikutnya rusak dan konsol gagal membaca data, perjalanan bisa berhenti.
Makanya Anak Rental Sering Punya Teknik Ritual
Lap CD.
Tiup.
Masukkan lagi.
Reset.
Berdoa.
Secara teknis, tidak semua ritual tersebut benar-benar membantu.
Tetapi dulu rasanya seperti troubleshooting resmi.
Rental PlayStation Membuat Multi-Disc Lebih Menarik Lagi
Di era rental PS, game multi-disc punya tantangan operasional sendiri.
Pemilik rental harus menjaga seluruh disc satu set tetap tersedia.
Kalau Salah Satu Hilang?
Pemain yang sampai titik pergantian disc bisa terjebak.
Kadang Disc Berpindah Case
Disc 2 game A ada di kotak game B.
Chaos.
Ini Bisa Jadi Artikel Sendiri
Kenapa rental PlayStation dulu sangat populer di Indonesia?
Topiknya sangat cocok untuk Grandpa’s iPod.
Bagaimana Game Menentukan Titik Pergantian Disc?
Developer biasanya memilih titik cerita tertentu.
Idealnya saat perpindahan terasa natural.
Bisa Setelah Cinematic Besar
Atau setelah chapter tertentu selesai.
Pergantian Disc Bisa Menjadi Dramatic Pause
Walaupun alasan utamanya teknis, penempatannya bisa mendukung struktur cerita.
Tetapi Tidak Semua Game Melakukannya dengan Cara Sama
Implementasi sangat bergantung pada game.
Ada Game yang Memungkinkan Pergantian Disc pada Area Tertentu
Ada juga yang sangat linear.
Kenapa Tidak Satu Disc untuk Gameplay, Satu untuk Video?
Secara teori data bisa diatur dengan banyak cara.
Tetapi game harus mempertimbangkan bagaimana data diakses selama permainan.
Kalau Setiap Cutscene Harus Ganti Disc…
Pemain akan kesal.
Jadi pembagian disc biasanya dirancang supaya pemain tidak perlu bolak-balik terus.
Ini Disebut Data Layout Problem
Developer perlu menentukan:
data apa berada di disc mana?
Apa yang perlu diduplikasi?
Di titik mana pemain berganti disc?
Storage Constraint Memengaruhi Game Design
Ini menarik karena teknologi bukan sekadar masalah engineer.
Ia bisa memengaruhi pengalaman pemain.
Limitasi Bisa Membentuk Kreativitas
Developer era lama bekerja dengan:
RAM kecil,
storage terbatas,
CPU terbatas,
dan media lambat dibanding standar modern.
Mereka Harus Mengoptimalkan
Texture.
Audio.
Video.
Level.
Loading.
Karena Itu Retro Game Development Sangat Menarik Dipelajari
Banyak solusi yang terlihat aneh sekarang sebenarnya masuk akal dalam constraint zamannya.
Loading Screen Juga Salah Satunya
Kenapa dulu kita sering melihat:
loading…
loading…
loading…
Karena data harus dibaca dari media dan dipindahkan ke memory.
Optical Disc Tidak Secepat SSD Modern
Jadi desain game harus memperhitungkan waktu akses data.
Beberapa Game Menyamarkan Loading
Developer menggunakan:
animation,
transition,
lorong,
elevator,
atau scene tertentu.
Teknik seperti ini masih digunakan dalam bentuk berbeda sampai sekarang.
Hardware Lebih Cepat Tidak Menghilangkan Semua Constraint
Target kualitas juga meningkat.
Ketika storage makin besar, asset ikut membesar.
Ketika RAM bertambah, developer membuat dunia lebih detail.
Technology Selalu Mengejar Ambisi
Dan ambisi mengejar technology.
Itulah Kenapa Sejarah Gaming Menarik
Kita bisa melihat game sebagai snapshot teknologi zamannya.
PS1 Multi-Disc Adalah Salah Satunya
Hari ini terlihat merepotkan.
Pada masanya, justru menjadi solusi untuk membuat game yang lebih ambisius.
Kalau Dipikir-pikir, Multi-Disc Adalah Upgrade
Bukan kekurangan semata.
Tanpa kemampuan menggunakan beberapa CD, developer mungkin harus:
mengurangi video,
mengurangi audio,
memotong asset,
atau mengubah scope game.
Disc Tambahan Memberikan Ruang
Secara literal.
Kenapa Ada Game PS1 yang Disc-nya Sedikit Padahal Besar?
Karena ukuran storage dipengaruhi jenis asset.
Game dengan dunia besar tetapi banyak menggunakan ulang texture dan model bisa membutuhkan storage berbeda dari game linear dengan banyak FMV unik.
Jangan Menyamakan “Besar” Secara Gameplay dengan “Besar” Secara File
Contoh sederhana:
sistem procedural bisa menghasilkan banyak variasi dari data yang relatif terbatas.
Video pre-rendered tidak bekerja seperti itu.
Setiap menit video membutuhkan data tersendiri.
Ini Sebabnya Cinematic Bisa Mahal dalam Storage
Terutama pada media kecil.
Bagaimana dengan Musik?
Ada game yang menggunakan audio dalam format dan teknik berbeda.
Sebagian musik bisa dibuat dengan data yang relatif efisien.
Sebagian menggunakan recorded audio yang membutuhkan lebih banyak storage.
Pilihan Teknologi Memengaruhi Ukuran
Tidak ada satu jawaban untuk semua game PS1.
Kenapa Disc PS1 Disebut CD Padahal Itu Game?
Karena media fisiknya memang berbasis compact disc technology.
Data yang ada di dalamnya bukan hanya musik.
CD dapat menyimpan data komputer.
CD Audio dan CD-ROM Berbeda Penggunaan
Bentuk fisiknya mirip.
Tetapi data dan cara penggunaannya berbeda.
Jangan Masukkan Game PS1 ke CD Player Sembarangan dengan Volume Tinggi
Beberapa disc game lama memiliki track atau struktur tertentu, tetapi memperlakukan data digital sebagai audio bukan ide yang bagus.
Gunakan perangkat sesuai fungsi.
Kenapa Bagian Bawah Disc PS1 Sering Terlihat Gelap?
Ini pertanyaan nostalgia lain yang menarik.
Disc PlayStation original dikenal memiliki tampilan bagian bawah yang gelap/hitam.
Apakah Warna Hitam Itu Anti-Piracy Magic?
Tidak sesederhana itu.
Sistem proteksi copy melibatkan cara disc dibuat dan data tertentu yang tidak sekadar berasal dari warna permukaan.
Ini Bisa Jadi Artikel Grandpa’s iPod Sendiri
Karena banyak mitos era PS1 berasal dari hal seperti ini.
Game Bajakan Membentuk Pengalaman yang Berbeda di Banyak Tempat
Di berbagai pasar, pengalaman gamer terhadap PS1 juga dipengaruhi modchip dan disc hasil salinan.
Namun legalitas dan sejarah distribusinya berbeda menurut negara dan konteks.
Untuk Artikel Nostalgia, Lebih Baik Bedakan Teknologi Asli dan Praktik Pasar
Supaya tidak mencampur:
bagaimana Sony merancang sistem,
dengan bagaimana konsumen tertentu menggunakannya.
Kenapa Sekarang Multi-Disc Terasa Begitu Nostalgia?
Karena teknologi modern menghilangkan banyak friction fisik.
Dulu Kita Menyentuh Progress
Memory Card.
Disc.
Case.
Manual.
Controller kabel.
Sekarang Banyak Hal Tidak Terlihat
Save berada di internal storage atau cloud.
Game digital berada di library.
Manual menjadi menu atau website.
Praktis, tetapi Kurang Tactile
Bukan berarti era lama lebih baik.
Hanya berbeda.
Nostalgia Sering Datang dari Friction
Menunggu loading.
Menggulung kabel controller.
Mencari Memory Card.
Mengganti Disc 2.
Saat Dijalani Dulu Kadang Menyebalkan
Sekarang justru dirindukan.
Lucu memang.
Tetapi Jangan Terlalu Meromantisasi
Disc tergores tetap menyebalkan.
Memory Card penuh tetap menyebalkan.
Loading panjang tetap panjang.
Retro Gaming Menarik Justru Karena Ada Dua Sisi
Kita bisa menikmati nostalgia sambil memahami kenapa teknologi modern berubah.
Dari Multi-Disc ke Download 100 GB
Dua era.
Masalah yang sama:
game membutuhkan banyak data.
Solusinya yang berubah
Dulu:
tambahkan CD.
Sekarang:
download lebih besar.
Gamer Dulu Bertanya:
“Disc 2 di mana?”
Gamer Sekarang:
“Game mana yang gue hapus biar storage cukup?”
Teknologi maju.
Paniknya tetap ada.
Apakah Game PS1 Multi-Disc Masih Bisa Dimainkan Sekarang?
Untuk hardware original, kondisi disc dan perangkat tentu menjadi faktor.
Media optik lama bisa mengalami:
goresan,
kerusakan,
atau degradasi.
Jangan Menggosok Disc Sembarangan
Metode internet seperti pasta gigi dan bahan abrasif bisa berisiko merusak permukaan.
Kalau koleksi bernilai, gunakan metode perawatan yang tepat atau layanan profesional.
Simpan Disc dengan Benar
Gunakan case.
Hindari:
panas berlebihan,
kelembapan ekstrem,
dan paparan yang bisa merusak media.
Pegang dari Tepi
Kurangi sidik jari pada permukaan pembacaan.
Retro Collection Semakin Tua
PS1 dirilis pada 1990-an.
Artinya banyak disc original sekarang sudah berusia puluhan tahun.
Kondisi Fisik Menjadi Bagian dari Preservation
Bukan cuma nostalgia.
Digital Preservation Juga Menjadi Topik Besar
Game lama menghadapi tantangan:
hardware tua,
media rusak,
server mati,
dan compatibility.
Tetapi Itu Topik yang Lebih Besar
Bisa kita buat sebagai cluster Retro Tech terpisah nanti.
Untuk Sekarang, Kembali ke Pertanyaan Utama
Kenapa game PS1 ada 2 disc atau lebih?
Karena satu CD memiliki kapasitas terbatas sementara game semakin ambisius.
Multi-Disc Adalah Solusi Praktis
Developer membagi data game ke beberapa media.
Sebagian data bisa diduplikasi.
Sebagian hanya dibutuhkan pada chapter tertentu.
Ketika pemain mencapai titik tertentu, game meminta disc berikutnya.
Memory Card Menjaga Progress
Jadi disc bisa berganti tanpa kehilangan perjalanan karakter.
Dan dari Keterbatasan Itu Lahir Salah Satu Pengalaman Gaming Paling Ikonik
Tulisan sederhana:
Insert Disc 2.
Bagi gamer sekarang, itu mungkin hanya instruksi.
Bagi gamer era PS1?
Itu milestone.
FAQ
Kenapa game PS1 ada yang menggunakan 2 disc?
Karena kapasitas satu CD tidak cukup untuk menyimpan seluruh data game. Developer membagi data ke beberapa disc agar dapat memasukkan lebih banyak asset seperti video, audio, lokasi, dan konten lainnya.
Apakah game PS1 ada yang menggunakan lebih dari 2 disc?
Ya. Beberapa game PS1 menggunakan tiga atau empat disc. Contoh terkenalnya adalah Final Fantasy VII dengan tiga disc, sedangkan Final Fantasy VIII dan Final Fantasy IX menggunakan empat disc pada rilis PlayStation aslinya.
Apakah disc kedua merupakan game berbeda?
Tidak. Disc kedua tetap bagian dari game yang sama. Pembagian dilakukan karena keterbatasan kapasitas media.
Apakah save game tersimpan di CD PS1?
Umumnya tidak. Progress permainan PS1 disimpan pada Memory Card, sementara CD berisi data game.
Apakah PlayStation harus dimatikan saat mengganti Disc 1 ke Disc 2?
Pada game yang memang meminta pergantian disc saat permainan berlangsung, proses tersebut dirancang dilakukan sesuai instruksi game tanpa mematikan konsol.
Kenapa PS2 lebih jarang menggunakan banyak disc?
Salah satu alasannya adalah banyak game PS2 menggunakan DVD yang menawarkan kapasitas jauh lebih besar daripada CD. Namun kebutuhan storage tetap bergantung pada game dan media yang digunakan.
Apakah empat disc berarti gamenya empat kali lebih besar?
Tidak selalu. Sebagian data dapat diduplikasi di beberapa disc, jadi jumlah disc tidak langsung menunjukkan jumlah data unik atau durasi permainan.
Kenapa game modern jarang meminta ganti disc di tengah permainan?
Kapasitas media dan internal storage jauh lebih besar, serta game modern umumnya meng-install data ke storage konsol atau didistribusikan secara digital. Namun beberapa physical release modern masih menggunakan lebih dari satu disc untuk instalasi atau data.
Kesimpulan
Kalau dulu pernah bertanya kenapa game PS1 ada 2 disc, 3 disc, bahkan 4 disc, jawabannya bukan karena developer sengaja ingin membuat pemain repot.
Justru sebaliknya.
Multi-disc adalah salah satu cara developer mengatasi keterbatasan teknologi pada masanya.
Satu CD hanya punya ruang terbatas.
Sementara game mulai memiliki:
lebih banyak lokasi,
lebih banyak musik,
lebih banyak audio,
lebih banyak cinematic,
dan presentation yang semakin ambisius.
Daripada memangkas semuanya agar muat satu CD, game bisa dibagi ke beberapa disc.
Ketika satu bagian selesai:
Insert Disc 2.
Progress tetap berada di Memory Card.
Cerita berlanjut.
Dan tanpa disengaja, solusi teknis sederhana itu menciptakan sebuah ritual gaming yang sekarang sulit ditemukan.
Kita dulu mungkin menganggapnya biasa.
Hari ini justru terasa sangat khas.
Karena pada era PS1, mencapai Disc 2 bukan cuma berarti konsol membutuhkan data berikutnya.
Buat pemain, rasanya seperti game sedang berkata:
“Perjalananmu sudah jauh. Sekarang kita masuk babak berikutnya.”
Dan kalau game itu punya empat disc?
Case-nya saja sudah cukup untuk memberi peringatan:
weekend ini sepertinya bakal panjang.






